Perantau dan Rindu yang Tak Pernah Usai
Menjadi perantau bukan lagi sekadar cerita tentang mengejar mimpi. Ia telah berubah menjadi kisah panjang tentang bertahan hidup, menekan rindu, dan bernegosiasi dengan kenyataan yang sering kali tidak ramah. Di balik gemerlap kota besar dan janji peluang yang lebih luas, ada jutaan perantau yang memikul kerinduan tanpa jeda. Setiap pagi, mereka berangkat bekerja dari kamar kos sempit atau kontrakan bersama, menyusuri jalanan macet, dan menatap gedung-gedung tinggi yang terasa asing. Kota menawarkan pekerjaan, tetapi jarang menawarkan kehangatan. Di sela kesibukan, rindu pada rumah kerap datang tiba-tiba—melalui aroma masakan yang mengingatkan dapur ibu, logat daerah yang terdengar di angkutan umum, atau unggahan foto keluarga di grup WhatsApp. Teknologi memang mempermudah komunikasi. Panggilan video, pesan instan, dan media sosial membuat jarak seolah mengecil. Namun bagi perantau, rindu bukan sekadar soal tidak bisa melihat wajah orang tersayang. Rindu adalah ketidakhadiran secara ...